Sebagai salah satu negara pendiri Gerakan Non-Blok, Indonesia memiliki komitmen konstitusional yang kuat untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Komitmen ini diwujudkan melalui pengiriman pasukan penjaga perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikenal sebagai Kontingen Garuda (Konga). Peran Konga dalam misi internasional adalah contoh nyata dari Diplomasi Militer, sebuah pendekatan strategis yang menggunakan kekuatan pertahanan tidak hanya untuk tujuan perang, tetapi juga untuk membangun hubungan antarnegara, memediasi konflik, dan mempromosikan citra positif bangsa di mata global.
Sejak Kontingen Garuda I dikirim ke Mesir pada tahun 1957, Indonesia telah berpartisipasi aktif dalam berbagai misi PBB di seluruh dunia, membuktikan diri sebagai global player dalam isu perdamaian dan keamanan. Hingga saat ini, Indonesia tercatat telah terlibat dalam lebih dari 12 misi perdamaian, termasuk di Kongo, Vietnam, Bosnia, dan Lebanon. Kontingen Garuda saat ini memiliki peran signifikan dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dan United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic (MINUSCA). Di Lebanon, misalnya, prajurit Konga bertugas sebagai Batalyon Mekanis (Indo FPC) dan Satuan Tugas Maritim (MTF). Pada periode rotasi September 2024, Indobatt XXXIX-B yang terdiri dari 850 personel TNI dan Polri, dipimpin oleh Kolonel Inf. Riki Anam, diberangkatkan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Lebanon, menggantikan kontingen sebelumnya.
Peran Kontingen Garuda melampaui tugas menjaga zona penyangga dan patroli keamanan. Mereka juga melakukan kegiatan Civil-Military Cooperation (CIMIC), yang merupakan inti dari Diplomasi Militer humanis. Di daerah konflik, prajurit Konga kerap terlibat dalam pembangunan kembali infrastruktur, seperti renovasi sekolah dan fasilitas kesehatan. Di Republik Afrika Tengah, misalnya, tim kesehatan dari Konga di bawah misi MINUSCA pada tanggal 15 Mei 2025, telah memberikan layanan medis gratis kepada lebih dari 500 warga sipil di wilayah Kaga-Bandoro, menunjukkan kepedulian dan solidaritas kemanusiaan. Aksi-aksi ini tidak hanya membantu pemulihan sosial masyarakat setempat tetapi juga menumbuhkan kepercayaan terhadap pasukan PBB.
Tantangan yang dihadapi Kontingen Garuda sangat kompleks, meliputi ancaman keamanan, perbedaan budaya, dan kondisi geografis yang sulit. Namun, prajurit Indonesia dikenal memiliki kemampuan beradaptasi dan berinteraksi yang tinggi. Kemampuan bahasa asing, pelatihan mediasi konflik, dan pemahaman budaya lokal menjadi kunci sukses mereka di lapangan. Peningkatan kualitas personel terus dilakukan melalui Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI di Sentul, Bogor, yang pada tahun 2025 telah melatih lebih dari 1.500 prajurit untuk penugasan luar negeri.
Keberhasilan Kontingen Garuda dalam menjalankan tugas-tugasnya telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara kontributor pasukan terbesar (Top Ten Troop Contributing Countries/TCC) di dunia. Ini adalah prestasi yang mencerminkan efektifitas Diplomasi Militer Indonesia dan komitmen teguh bangsa ini terhadap perdamaian global, memperkuat posisi tawar Indonesia di forum-forum internasional.